JNPH Indonesia
Pemuda Jaga Bumi, Selamatkan Masa Depan
Oleh
Martinus Laba Uung, S.Sos., M.A.P.
Mahasiswa Doktoral Ilmu Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Jakarta
Yang kami hormati:
Rektor Universitas Negeri Jakarta
Kaprodi Kependudukan dan Lingkungan Hidup UNJ
Para Narasumber Perwakilan dari Akdemisi/Peneliti Universitas Negeri Jakarta, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI., Kementeria Lingkungan Hidup RI., Kemeterian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKN., RI.
Para Perwakilan Organisasi Kepemudaan,
Sesama Teman-Teman Muda, Perwakilan Organ Kepemudaan, Mahasiswa dan Mahasiswi
Para Tamu Undangan
Seluruh Hadirin Seminar Nasional Pemuda Hijau 2025.
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.
Pada kesempatan ini, izinkan saya sebagai moderator membacakan penjelasan mengenai tema besar yang menjadi dasar penyelenggaraan Seminar Nasional Pemuda Hijau 2025. Tema yang kita angkat adalah “Refleksi Pemuda untuk Pelestarian Lingkungan dan Ketahanan Kependudukan Nasional Menuju Ketahanan keluarga 2045". Tema ini muncul dari kebutuhan mendesak untuk melihat kembali kondisi lingkungan dan kependudukan Indonesia, serta bagaimana pemuda dapat mengambil peran lebih besar dalam menjaga masa depan bangsa.
Sebagai moderator, saya ingin mengawali dengan mengajak kita semua menyadari bahwa persoalan lingkungan di Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah teknis semata. Dalam beberapa bulan terakhir, kita menyaksikan kembali terjadinya banjir bandang di Sumatera yang menelan korban jiwa, merusak rumah penduduk, serta meninggalkan luka sosial yang mendalam. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa degradasi lingkungan telah mencapai titik yang memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda.
Melalui tema ini, pemuda diajak untuk melihat kembali kondisi lingkungan dan kependudukan Indonesia dengan lebih jernih. Lingkungan yang dulu memberikan kehidupan kini menghadapi tekanan besar akibat deforestasi, alih fungsi lahan, pencemaran air, hingga pemukiman yang tumbuh tanpa perencanaan matang. Semua ini saling berkaitan dengan dinamika kependudukan yang terus berkembang. Pertumbuhan penduduk, migrasi besar-besaran ke kota, serta ketimpangan pemanfaatan ruang menimbulkan tekanan berat pada daya dukung lingkungan.
1. Membaca Kondisi Lingkungan dan Kependudukan Indonesia
Kami menegaskan bahwa bagian pertama dari tema ini mengajak pemuda untuk jujur melihat kondisi lingkungan yang semakin rentan. Banyak daerah yang dulu hijau kini berubah menjadi lahan terbuka. Sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan tercemar oleh limbah. Sementara itu, kepadatan penduduk di wilayah tertentu membuat tekanan terhadap sumber daya alam semakin besar. Banjir bandang di Sumatera adalah bukti nyata bahwa ketika penataan ruang tidak memperhitungkan daya dukung lingkungan, maka warga yang tinggal di kawasan rawan menjadi pihak yang paling terdampak. Refleksi ini penting agar pemuda tidak hanya melihat data, tetapi juga memahami dampak sosial yang terjadi di lapangan. Di balik setiap bencana, terdapat keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang kehilangan sekolah, serta masyarakat yang harus memulai kehidupan dari awal.
2. Memahami Keterhubungan Ekologi dan Ketahanan Keluarga
Tema ini juga mengajak pemuda memahami bahwa ekologi dan ketahanan keluarga tidak dapat dipisahkan. Lingkungan yang rusak tidak hanya menghancurkan alam, tetapi juga mengancam keamanan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup keluarga. Ketika banjir datang, bukan hanya rumah yang hilang. Rasa aman, akses pendidikan, mata pencaharian, dan kondisi psikologis keluarga ikut terguncang.
Penekanan bahwa ketahanan keluarga adalah fondasi ketahanan nasional. Oleh sebab itu, menjaga lingkungan berarti menjaga keluarga Indonesia. Pemuda perlu memahami bahwa isu lingkungan bukan hanya soal pohon, sungai, atau udara bersih. Ini juga soal melindungi masa depan generasi berikutnya. Setiap upaya, sekecil apa pun, memberikan dampak langsung terhadap kekuatan dan ketangguhan keluarga di seluruh Indonesia.
3. Menyadari Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan
Kami ingin menjelaskan bahwa pemuda memiliki posisi yang sangat strategis sebagai agen perubahan. Pemuda memiliki kreativitas, kecepatan beradaptasi, kemampuan digital, dan jejaring sosial yang luas. Semua modal ini dapat membantu mempercepat gerakan pelestarian lingkungan dan penguatan kependudukan. Namun peran pemuda tidak boleh berhenti sebagai slogan. Pemuda harus hadir di lapangan, melakukan pemetaan risiko, menjalankan edukasi, mengembangkan riset kecil-kecilan, hingga mendorong kebijakan berbasis lingkungan.
Banyak gerakan pemuda di berbagai daerah telah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana dan konsisten. Jarnas Pemuda Hijau hadir sebagai wadah untuk menyatukan gerakan tersebut dalam skala nasional.
4. Membangun Gerakan Nyata yang Berkelanjutan
Tema ini juga menekankan pentingnya membangun gerakan nyata yang berkelanjutan. Tidak cukup hanya membuat kegiatan seremonial. Gerakan lingkungan harus bertumpu pada analisis kebutuhan masyarakat dan berorientasi keberlanjutan. Pemuda perlu membangun program yang tidak berhenti setelah satu kali kegiatan, melainkan terus berkembang, dipantau, dan diperbaiki. Kami menggarisbawahi bahwa pemulihan lingkungan membutuhkan komitmen jangka panjang.
Banjir bandang di Sumatera mengingatkan kita bahwa kerja lingkungan bukan pekerjaan satu hari, tetapi proses panjang yang harus didukung oleh riset, teknologi, dan kolaborasi.
5. Menguatkan Jaringan Kepemudaan Nasional
Bagian terakhir dari tema ini adalah menguatkan jaringan kepemudaan nasional. Tantangan lingkungan dan kependudukan terlalu besar untuk ditangani sendiri-sendiri. Pemuda harus bekerja bersama, saling melengkapi, dan saling menguatkan.
Jarnas Pemuda Hijau menjadi ruang bagi pemuda di seluruh Indonesia untuk bertemu, bertukar pengalaman, dan membangun gerakan kolektif yang lebih solid.
Sebagai penutup, dan sebagai moderator, kami menegaskan bahwa refleksi bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tetapi untuk merancang masa depan yang lebih baik. Pemuda Indonesia harus berdiri di garis depan, membawa gagasan baru, dan memastikan bahwa lingkungan yang kita tinggali hari ini dapat diwariskan dengan baik kepada generasi berikutnya.
Terima kasih