JNPH Indonesia
Pemuda Jaga Bumi, Selamatkan Masa Depan
Prof. Dr. Henita Rahmayanti, M. Si.
Kaprodi Doktoral Ilmu Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Jakarta
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas limpahan rahmat-Nya, kita dapat berkumpul dalam kegiatan Seminar Nasional Pemuda Hijau pada hari ini. Atas nama Program Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Jakarta, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada JARNAS Pemuda Hijau yang telah menginisiasi kegiatan penting ini dan menjadikannya ruang dialog serta refleksi bagi pemuda Indonesia.
Kegiatan seminar ini hadir pada saat yang tepat. Indonesia saat ini sedang menghadapi persoalan kependudukan dan lingkungan yang semakin kompleks. Pertumbuhan penduduk yang cepat, urbanisasi yang tidak terkendali, degradasi lingkungan, penurunan kualitas air dan udara, serta melemahnya ketahanan keluarga merupakan tantangan nyata yang perlu mendapat perhatian serius. Dalam konteks ini, pemuda menjadi kelompok yang memiliki posisi strategis, karena selain jumlahnya besar, mereka juga memiliki ide, energi, dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan.
Program Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup UNJ melihat bahwa dua aspek—kependudukan dan lingkungan—adalah satu kesatuan yang saling memengaruhi. Kualitas lingkungan yang buruk akan berdampak langsung pada kesehatan keluarga, produktivitas kerja, pola pendidikan, hingga pertumbuhan generasi. Sebaliknya, pola kependudukan yang tidak terkelola dengan baik akan memberikan tekanan besar terhadap daya dukung lingkungan. Oleh sebab itu, seminar ini menjadi wadah penting untuk menguatkan pemahaman bahwa masa depan Indonesia 2045 tidak dapat dilepaskan dari bagaimana kita mengelola lingkungan dan kependudukan sejak hari ini.
Tema yang diangkat pada seminar ini, yakni “Refleksi Pemuda Untuk Pelestarian Lingkungan dan Kependudukan Nasional Menuju Ketahanan Keluarga 2045”, memberikan pesan mendalam. Refleksi pemuda bukan hanya sekadar mengingat kembali apa yang terjadi di masa lalu, melainkan menatap jauh ke depan. Refleksi berarti memikirkan langkah, strategi, dan komitmen jangka panjang agar bangsa ini dapat memasuki masa Indonesia Emas dengan fondasi yang kuat pada lingkungan dan keluarga.
Kami dari lingkungan Prodi Kependudukan dan Lingkungan Hidup UNJ meyakini bahwa gerakan pemuda seperti JARNAS Pemuda Hijau sangat dibutuhkan dalam pembangunan berkelanjutan. Perguruan tinggi dapat menghasilkan kajian ilmiah, riset akademik, dan rekomendasi kebijakan, namun tanpa keterlibatan pemuda di lapangan, banyak gagasan tidak dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata. Pemuda adalah jembatan antara ilmu pengetahuan dan perubahan sosial. Karena itu, kolaborasi antara kampus dan organisasi pemuda ekologis menjadi langkah strategis untuk memperkuat gerakan lingkungan hidup di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat berbagai peristiwa ekologis di sejumlah daerah yang harus menjadi perhatian bersama. Banjir bandang, longsor, dan kerusakan hutan di Sumatera Barat, Kalimantan, Jawa Barat, dan beberapa wilayah lainnya menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan masih menghadapi tantangan besar. Bencana tersebut bukan hanya merusak infrastruktur dan perekonomian, tetapi juga mengganggu stabilitas keluarga. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan anggota keluarga. Hal ini menjadi bukti bahwa ketahanan keluarga tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan. Pemuda perlu memahami bahwa aksi menjaga lingkungan berarti menjaga keberlangsungan keluarga Indonesia. Jika lingkungan rusak, maka keluarga akan menjadi pihak yang paling terdampak. Oleh karena itu, kesadaran ekologis harus mulai diperkuat sejak dini. Seminar ini menjadi kesempatan bagi pemuda untuk belajar, bertukar gagasan, dan membangun jaringan nasional yang solid dalam isu lingkungan dan kependudukan.
Saya juga ingin menegaskan bahwa Program Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup UNJ membuka pintu seluas-luasnya untuk kolaborasi. Kami siap mendukung program edukasi, penelitian, pengabdian masyarakat, serta inisiatif aksi ekologis yang dilakukan oleh JARNAS Pemuda Hijau dan komunitas pemuda lainnya. Ke depan, kami berharap tercipta sinergi yang berkelanjutan antara dunia kampus dan gerakan pemuda untuk menguatkan literasi hijau dan meningkatkan kemampuan pemuda dalam memahami dinamika kependudukan.
Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremonial. Kami ingin melihat adanya tindak lanjut nyata, baik dalam bentuk kajian, program aksi lapangan, kampanye digital, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan yang menjangkau masyarakat luas. Pemuda harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya berbicara, tetapi juga bergerak. Tugas kita adalah memastikan bahwa gerakan pemuda ini terarah, terukur, dan memberikan dampak bagi lingkungan dan keluarga.
Seminar ini juga menjadi momentum bagi pemuda untuk membangun komitmen bersama menuju Indonesia Emas 2045. Ketahanan keluarga, kualitas lingkungan, dan pengelolaan penduduk adalah tiga pilar utama yang tidak dapat dipisahkan. Tiga hal ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Tanpa keluarga yang kuat, lingkungan yang sehat, dan pengelolaan penduduk yang baik, cita-cita besar 2045 hanya akan menjadi mimpi.
Akhir kata, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, narasumber, dan para peserta yang berpartisipasi dalam seminar ini. Semoga kegiatan ini memberikan inspirasi dan memperkuat langkah kita dalam menjaga lingkungan, memperbaiki kualitas kependudukan, serta memperkuat ketahanan keluarga. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk terus berkontribusi bagi bangsa.
Terima kasih.